Tips Mengajari Anak Bahasa Asing Sejak Dini Bagian 3

Kecelaruan atau kebingungan dalam berbahasa ini sebetulnya dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adanya ketidakkonsistenan berbahasa dari pemberi input bahasa, entah itu orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya. Contohnya, mengenalkan makna satu kata tetapi tidak ajek. Lalu, penggunaan tata bahasa yang salah yang terpaksa diserap anak. Contoh, penggunaan past tense untuk situasi present progressive tense, kesalahan pemakaian singular dan plural, pronoun personal, dan sebagainya.

Hal ini menyebabkan anak menjadi bingung jika kemudian ia mendengar dari sumber bahasa lain, yang berbeda dengan biasa yang didengarnya. Faktor lainnya, yaitu bahasa tidak lengkap atau campur aduk, seperti penggabungan antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dalam sebuah kalimat. Juga dalam hal pelafalan yang tidak tepat dan tidak konsisten. Hal ini membuat anak tidak mendapatkan contoh berbahasa yang benar.

Sebetulnya, meskipun dikenalkan belakangan, B2 dapat dikuasai sefasih bahasa ibu/B1. Kondisi ini terjadi jika anak selalu terpapar oleh B2, apakah itu dari lagu-lagu, ­ lm, buku, berbicara dengan penutur bahasa asing, dan lain-lain. Ingat, bahasa merupakan keterampilan (language skill) yang akan menjadi lebih terasah jika selalu digunakan dan diekspos. Sebaliknya juga bisa terjadi, bahasa ibu/B1 justru tidak berkembang sefasih bahasa asing/B2, yaitu apabila B1-nya tidak banyak diekspos pada saluran pembawa bahasa atau sedikit hubungan dengan saluran pembawa bahasa ibu. baca Teknologi Drone terbaru

Perbanyak Saluran

Jadi, intinya, bahasa apa pun akan semakin baik dikuasai jika banyak diekspos pada saluran-saluran yang membawa bahasa tersebut, dan sebaliknya. Agar anak tetap menguasai bahasa ibu dengan baik, sekaligus terampil menggunakan bahasa keduanya dengan lancar, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Di antaranya dengan memperbanyak saluran pembawa bahasa untuk B1 dan B2 secara proporsional atau sesuai kebutuhan bahasa mana yang ingin lebih fasih dikuasai. Hal ini bisa dilakukan melalui media buku cerita, lagu, ­ lm, atau percakapan dalam bahasa-bahasa tersebut. Buatlah pembagian waktu “berbahasa” yang jelas.

Misalnya, di meja makan dan ketika jalan-jalan ke luar rumah wajib berbahasa Inggris. Sedangkan percakapan sebelum tidur dan dalam perjalanan ke sekolah dalam bahasa ibu. Menariknya lagi, tak ada batasan berapa banyak bahasa yang boleh diajarkan pada anak. Jika pentransferan bahasa dapat dilakukan secara alamiah, anak akan dapat memproses input bahasa dengan lebih relaks dan hasil yang diperoleh pun lebih optimal. Contoh, Papa berbicara bahasa Inggris, Mama berbicara bahasa Indonesia, Nenek berbicara bahasa Hokian, sedangkan pengasuh berbicara bahasa Jawa. Ternyata, tidak masalah kan, mengajarkan bahasa asing sejak dini pada anak? Yang penting, caranya tepat!

Artikel Lainnya: